Stars and Rabbit: Dari Yogyakarta Hingga Soundtrack Film dari Inggris

Saat pertama mengetahui bahwa Stars and Rabbit ini adalah sebuah nama duo grup band indie, pasti kamu mendapat kesan pertama tentang band yang cute nan unik. Namun, bisa jadi ada rasa aneh hingga terkesima saat mendengarkan lagu-lagunya untuk pertama kali. Karena seperti namanya yang mencuri perhatian, lagu yang diciptakan oleh personilnya Elda dan Adi ini juga dinilai lain daripada yang lain.

Sejarah terbentuknya Stars and Rabbit

Elda, sang vokalis dulunya adalah vokalis Candles Band, sebuah band beraliran Top 40 & All Round di Yogyakarta. Lalu pada tahun 2006, Elda mengikuti sebuah ajang pencarian vokalis band EVO lewat sebuah acara bernama REINKARNASI di sebuah TV swasta.

Wanita berpenampilan unik dan berkarakter suara unik ini berhasil keluar sebagai pemenang dan resmi menjadi vokalis band EVO. EVO menaikkan popularitas Elda sebagai penyanyi berbakat hingga akhirnya album berjudul “Evolution” dirilis dengan beberapa lagu hits seperti ‘Agresif’ dan ‘Terlalu Lelah.’ Band EVO kini telah redup dari panggung musik Indonesia.

Pada tahun 2011, Elda Suryani muncul dalam duo grup benama Stars and Rabbit, sebuah nama yang diambil dari akun Twitter rahasianya. Imej Elda sebagai vokalis EVO masih melekat, bahkan banyak mempertanyakan Elda sebagai vokalis EVO saat pertama kali mendengar lagu Stars and Rabbit di YouTube. Gak jarang nih Elda dipaksa membawakan kembali lagu dari band lamanya karena permintaan penonton, namun ia selalu menolak.

Mengusung genre ‘Stars and Rabbit’

Menciptakan Stars and Rabbit bersama-sama justru menjadikan dua orang ini mampu menuangkan ide brilian mereka menjadi karya yang digemari banyak orang. Lirik lagu yang seluruhnya ditulis oleh Elda dan bantuan Adi sebagai gitaris serta rekannya Didit, yang juga mantan personil EVO, membuahkan sebuah irama musik yang terlampau unik hingga keduanya tidak mampu mengkotakkan genre musik mereka.

Meski selama ini para penikmat lagu-lagu mereka berasumsi bahwa genre dalam musik yang dihasilkan duo grup ini adalah perpaduan pop dan folk, mereka hanya mengiyakan dan tidak membantah. Namun dari pengakuan keduanya nih, mereka lebih menyebut genre yang dipakai sebagai genre ‘Stars and Rabbit’ saja. Pasalnya, perpaduan aliran musik yang dipakai meliputi pop, sedikit folk, alternatif, dan lainnya.

Dikenal hingga ke luar negeri

Duo group band indie asal Yogyakarta yang terbentuk pada awal tahun 2011 ini sukses menggebrak dunia musik Indonesia lewat single pertama mereka bertajuk ‘Worth It.’ Lagu ini sukses memikat hati penikmat musik Indonesia bahkan sampai ke Inggris lho. Pasalnya, semua lagunya yang berlirik bahasa Inggris ini cukup mencuri perhatian karena aransemen musik, lirik hingga penampilan yang dibawakan duo grup band ini saat manggung.

Single ‘Worth It’ menjadi theme song salah satu program siaran Radio Prambors yang berjudul ‘Kompilasi Kisah Kamu’ sampai akhirnya lagu tersebut bisa dirilis di iTunes hingga mereka jadi dikenal lewat social media.

Setelah mencuri hati penggemarnya di Indonesia, siapa sangka single mereka yang berjudul ‘The House’ ternyata menjadi soundtrack dalam film pendek Inggris berjudul ‘Wander.’ Ada yang sudah nonton dan mendengar soundtrack-nya? Kalau belum, silakan dengar di sini.

Album Constellation jadi satu gebrakan yang berani

Saat ini Stars and Rabbit telah mempunyai album perdana yang berjudul ‘Constellation’ yang rilis pada tahun 2015 lalu. Constellation memiliki arti konstelasi atau rasi bintang.

Pemilihan nama album ini dikatakan Elda, karena ia mendapatkan inspirasi musik dan lirik saat malam hari. Ia merasa ada suatu keindahan saat malam hari yakni konstelasi itu.

Keunikan lain dalam album ini sendiri adalah mastering yang dilakukan oleh John Davis, di Metropolis Studios, London yang telah banyak menangani artis-artis papan atas internasional seperti Lana Del Rey, Led Zeppelin, dll. Suatu gebrakan yang cukup berani untuk musisi indie Indonesia saat ini. Namun, hasilnya memang patut diacungi jempol.

Awalnya mereka mencari nama-nama master-engineering dari band-band favorit hingga bertemulah satu nama yang dipilih. Melalui balas-membalas email, John Davis ternyata sangat tertarik dengan album Constellation dan dikerjakan dalam waktu kurang dari 1 bulan. Ceritanya nih, mereka sempat speechless saking girangnya saat John Davis membalas email mereka.

Nah, gak hanya itu, ketika peluncuran album, Stars and Rabbit mempromosikan album mereka lewat Constellation Asian Tour 2015. Gak main-main, lokasi yang dipilih bukan cuma di Indonesia tapi di luar negeri yakni di Malang, Bali, Shenzhen, Hong Kong, Guanzhou, Manila dan Jakarta.

Sukses terus untuk Stars and Rabbit!

 

Penulis: Thalita Jacinda

Foto: Stars and Rabbit Management

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat